Investasi di Gojek, Telkomsel Bakal Kecipratan Untung

Annis - Bisnis

Sabtu, 21 November 2020 20:40 WIB

investasi di gojek, telkomsel bakal kecipratan untung

Strategi Telkomsel berinvestasi di Gojek dinilai sejumlah kalangan bakal berdampak positif terhadap ekonomi nasional. Telkomsel memiliki infrastruktur matang dengan jangkauan terluas. Sementara Gojek dengan ekosistem bisnis dengan jutaan mitra bisnis merupakan pasar yang menawarkan potensi sumber pendapatan baru bagi Telkomsel.

Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, menyambut positif langkah investasi Telkomsel di Gojek tersebut.Menurutnya, sinergi antara Telkomsel yang bergerak di bidang telekomunikasi dan Gojek sebagai perusahaan aplikasi on-demand, akan berdampak positif terhadap konsumen.

Dari sisi konsumen, kata Yose, investasi Telkomsel di Gojek akan menguntungkan masyarakat di Tanah Air. Hal ini, terutama, dalam memanfaatkan layanan yang disediakan oleh kedua perusahaan tersebut. "Masyarakat akan diuntungkan karena tarif jasa yang disediakan Telkomsel dan Gojek bisa menjadi lebih efisien," kata Yose, Sabtu (21/11/2020).

Baca Juga: Ini Loh Keuntungan Investasi Telkomsel ke Gojek dari Perspektif Ekonom

Yose melanjutkan, konsumen akan semakin diuntungkan apabila sinergi kedua perusahaan tersebut bisa menciptakan efisiensi dari sisi operasional. Contohnya, untuk mengembangkan fitur layanan di aplikasinya, Gojek akan mendapatkan dukungan teknologi dari Telkomsel.

Sementara itu bagi Telkomsel, dengan dukungan Gojek yang memiliki basis data customer besar, akan membuat anak usaha PT Telkom Tbk ini menjadi lebih mudah untuk mengoptimalkan kekuatan infrastrukturnya.

"Bisa saja pengguna Gojek akan beralih menggunakan layanan Telkomsel dengan adanya sinergi ini. Selain itu, konsumen Telkomsel bisa mendapatkan promo-promo khusus dari layanan Gojek," imbuh Yose.

Apalagi, Gojek merupakan super app yang memiliki banyak layanan. Menurut Yose, sebagai super app, platform Gojek bukan hanya untuk melayani jasa transportasi online. Lebih dari itu, Gojek juga memiliki platform produk finansial teknologi seperti transaksi payment.

Karena itu, menurut Yose, strategi investasi yang dilakukan Telkomsel dengan menggandeng Gojek sangat tepat. Dari hasil kolaborasi tersebut, tak tertutup kemungkinan Telkomsel bisa memperbesar asetnya dari hasil capital gain berinvestasi di Gojek. "Jadi, sinergi ini menguntungkan bisnis Telkomsel secara langsung," katanya.

Telkomsel memutuskan investasi di Gojek senilai USD 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun."Investasi di AKAB dilakukan sebagai bentuk komitmen Telkomsel sebagai perusahaan komunikasi digital untuk memberikan layanan beyond connectivity. Telkom percaya kolaborasi ini dapat memberikan layanan dan solusi yang lebih baik kepada masyarakat dalam membangun ekonomi digital yang inklusif dan berkesinambungan," jelas Andi Setiawan, VP Investor Relations Telkom dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (17/11).

Baca Juga: Gokil Sih! Gegara Buang Duit ke Go-Jek, Investor Asing Langsung Berebut Beli Saham Telkom

Kesepakatan Telkomsel dan Gojek tersebut datang pada momentum yang tepat. Pasalnya, secara fundamental Gojek kini telah memasuki fase baru. Dimana ekosistem bisnis di Gojek mulai berhasil mencatatkan margin positif.

Sementara, Co-CEO Gojek, Andre Soelistyo mengumumkan, perusahaan berhasil mencetak laba operasional di luar biaya headquarter (contribution margin positive) di tengah kondisi penuh tantangan dalam tahun ini. Artinya, setiap transaksi Gojek sudah menghasilkan cashflow yang belum dikurangi biaya headquarter.

"Investasi kan ada perpaduan pendanaan dari luar dan internal cashflow. Jika ada profit dari titik produk itu, investasi yang kami lakukan tidak hanya dari luar. Sejak tahun ini investasi bisa dihasilkan dari internal cash flow, ini penting sekali," jelasnya.

Gojek mengumumkan jika fundamental perusahaan di tahun 2020 semakin kuat didukung oleh total nilai transaksi di dalam platform Gojek group (Gross transaction value - GTV) yang mencapai US$ 12 miliar atau sekitar Rp 170 triliun, meningkat 10% dibandingkan tahun lalu. Pencapaian ini didorong antara lain oleh transaksi dari pengguna aktif bulanan (monthly active users) Gojek yang telah mencapai 38 juta pengguna di seluruh Asia Tenggara.