Walah Dalah, Asing Kok Ramai 'Angkat Kaki' dari Saham Perusahaan Pak JK? Sampai Tumbang. . . .

Lestari_ningsih - Bursa

Selasa, 07 April 2020 14:32 WIB

walah dalah, asing kok ramai 'angkat kaki' dari saham perusahaan pak jk? sampai tumbang. . . .

Saham perusahaan milik Jusuf Kalla, yakni PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) terpantau memerah pada perdagangan bursa awal pekan ini, Selasa (7/04/2020). Hingga pukul 14.30 WIB, saham BUKK tumbang sedalam -5,17% ke level Rp1.100 per saham. Bahkan, beberapa waktu lalu, saham BUKK jatuh hingga ke level terendahnya di angka Rp1.080 per saham.

Baca Juga: Ramayana Curhat Gak Ada Harapan Lagi hingga Harus PHK 300 Karyawan, Nasib Saham RALS Bikin Bergidik!

Menariknya, aktivitas perdagangan saham BUKK hari ini terpantau lebih ramai daripada biasanya. Jelang penutupan pasar, sudah ada 36 transaksi atas 42,30 ribu saham BUKK. Nilai transaksi harian yang terhimpun juga membengkak menjadi Rp47,05 juta. 

Sayangnya, mayoritas transaksi yang terjadi ialah penjualan saham oleh investor. Bursa mencatat, asing ramai pergi dari saham perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan dan penyediaan peralatan khusus ini. Setidaknya, keuntungan yang dibawa keluar asing dari saham BUKK mencapai Rp3,62 juta atau setara dengan Rp10,62 juta dalam sebulan terakhir. 

Baca Juga: BSDE Tutup Operasi 2 Hotel karena Defisit Keuangan, Imbasnya Bakal Mengurangi....

Asal tahu saja, perusahaan dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp2,90 triliun ini relatif jauh dari pemberitaan. Informasi terbaru dari BUKK ialah laporan kinerja perusahaan sepanjang tahun 2019 yang tercatat mengalami kenaikan dari segi pendapatan.

Sebagai informasi, BUKK tercatat mengantongi pendapatan dari kontrak konstruksi dan nonkonstruksi sebesar Rp6,04 triliun pada sepanjang tahun 2019 lalu. Angka tersebut meningkat 29,05% dari capaian tahun sebelumnya yang hanya Rp4,68%. 

Bersamaan dengan kenaikan pos pendapatan, beban kontrak konstruksi dan nonkonstrusi juga tercatat membengkak 35,14% dari Rp3,87 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp5,23 triliun pada tahun lalu. Kenaikan beban itu lantas membuat laba perusahaan terkoreksi hingga 12,38% dari Rp561,54 miliar menjadi Rp492,02 miliar pada tahun 2019.