Akselerasi Ekspor di Tengah Ancaman Corona, Kementan Giatkan Digitalisasi Layanan Karantina

Puri_mei - Agribisnis

Rabu, 04 Maret 2020 11:15 WIB

akselerasi ekspor di tengah ancaman corona, kementan giatkan digitalisasi layanan karantina

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus mendorong pengembangan layanan perkarantinaan pertanian secara digital. Digitalisasi layanan karantina ini terus diperkuat sebagai bagian dari akselerasi ekspor pertanian.

Saat memberikan arahan kepada seluruh pimpinan unit kerja lingkup Badan Karantina Pertanian (Barantan) dari seluruh Indonesia terkait percepatan layanan ekspor pertanian seiring dengan antisipasi kondisi global pasca wabah global di Bogor, Selasa (3/3/2020), Mentan mempertegas bahwa akselerasi ekspor pertanian ini merupakan instruksi langsung Presiden Jokowi.

Baca Juga: Mentan Lepas Ekspor Larva Kering dari Bogor Tembus Inggris

"Ini adalah instruksi langsung Bapak Presiden untuk mempercepat layanan ekspor agar nilai ekspor dapat terus meningkat. Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk terus mendorong model dan solusi secara berkelanjutan dengan digitalisasi layanan," kata Syahrul dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Pada pertemuan  kali ini, Syahrul sempat memperagakan permohonan pemeriksaan karantina pertanian secara online pada aplikasi IQFAST. Dari demo ini terlihat ragam komoditas pertanian  ekspor sepanjang Januari dan Februari tahun 2020 sebanyak 455 jenis, terdiri dari tumbuhan sebanyak 429 jenis dan hewan sebanyak 26 jenis.

Kementan juga lakukan penerapan e-government dengan instansi terkait di pelabuhan maupun bandara yang diwujudkan dengan peran serta karantina pertanian dalam implementasi Indonesia National Single Window (INSW). Barantan telah bergabung dengan INSW sejak 2007 lalu. Dari sebanyak 52 unit pelaksana teknis (UPT) di baeab Barantan, terdapat 47 UPT yang telah mengimplementasikannya.

Mentan secara singkat turut bercerita soal aplikasi peta potensi komoditas pertanian berorientasi ekspor atau IMACE yang telah digagas oleh Barantan. Menurutnya, aplikasi ini tengah digalakkan ke seluruh provinsi. Mentan Syahrul berharap aplikasi ini dapat digunakan sebagai landasan kebijakan pembangunan pertanian berbasis kawasan berorientasi ekspor.

"Pemerintah daerah dapat memanfaatkan peta ini untuk mengembangkan potensi wilayah dan kami pun akan lebih mudah memfasilitasi ekspornya," tegasnya.

Kepala Barantan, Ali Jamil, yang hadir dan mendampingi Mentan Syahrul juga menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan layanan prioritas bagi pelaku usaha agribisnis yang dinilai patuh.

"Dengan layanan ini, tindakan karantina yang dilakukan guna memastikan hewan, tumbuhan, dan produk turunannya yang akan diekspor atau diimpor ini sehat, aman, dan telah memenuhi persyaratan standar internasional dapat lebih cepat," sebut Ali.

Layanan "Jemput Bola"

Guna meningkatkan daya saing produk pertanian di pasar global, Ali menyebutkan pihaknya telah menyiapkan layanan bimbingan teknis pemenuhan persyaratan sanitari dan fitosanitari bagi pelaku usaha. Selain bertugas untuk menjaga kelestarian sumber daya alam hayati, pihaknya selaku otoritas karantina bertugas untuk memastikan produk pertanian yang diekspor dan diimpor sehat juga aman.

Selain itu, layanan inline inspection juga disiapkan Barantan guna mendorong daya saing. Pelaku usaha cukup menginformasikan jadwal pengiriman. Setelah itu, petugas Karantina Pertanian akan melakukan pemeriksaan di gudang pemilik.

"Hal ini dapat memangkas waktu layanan hingga 30%. Hal ini dapat berdampak terhadap biaya dan kesegaran produk sehingga dapat memiliki harga jual yang bersaing di negara mitra dagang," jelas Ali.

Barantan juga terus mengembangkan penerapan elektronik sertifikat dalam bentuk e-Cert. Dengan layanan ini, dimungkinkan keberterimaan produk ekspor terjamin dengan data sertifikat yang terkirim lebih dahulu sebelum komoditas datang.