Jokowi Ingatkan Soal Revolusi Konsumen, Apa Itu?

Rosmayanti - Makro

Senin, 16 September 2019 16:32 WIB

jokowi ingatkan soal revolusi konsumen, apa itu?

Isu disrupsi dan revolusi teknologi masih menjadi topik hangat dan perlu menjadi concern para pelaku industri dan bisnis saat ini. Tapi ada satu lagi yang tidak kalah penting, yaitu revolusi konsumen. Apa itu?

Presiden Joko Widodo saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVI Hipmi di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (16/9/2019), menjelaskan, pada 2020 mendatang jumlah kelas menengah (middle class) di Indonesia akan mencapai 241 juta, menurutnya, angka itu sangatlah besar. Selain itu, sebaran kelas menengah juga semakin banyak, yang lima tahun lalu hanya ada di 25 kabupaten dan kota, sekarang sudah tersebar di 54 kabupaten dan kota.

"Hati-hati, implikasinya jangan sampai yang mengambil manfaat pihak asing, artinya Indonesia semakin atraktif bagi investasi bisnis global," ungkap Jokowi.

Baca Juga: Revisi 74 UU Perizinan dan Investasi, RI Jangan Dieksploitasi Terus!

Terlebih lagi, lanjut Jokowi, di tengah situasi global yang tidak menentu dan ancaman resesi ekonomi, Indonesia akan semakin menjadi magnet yang kuat bagi negara lain. Mereka akan berbondong-bondig memanfaatkan peluang pasar di Indonesia.

Melihat situasi itu, menurut Jokowi, pemerintah akan terus bekerja keras menghilangkan hambatan investasi. Harapannya, dengan kemudahan investasi, akan semakin banyak perusahaan yang melakukan investasi di Indonesia. Akhirnya industri di Indonesia bisa mengalahkan negara lain.

"Kelemahan kita sulit untuk berpartner, bermitra, sekarang kesempatan besar untuk dapatkan mitra, dengan bermitra, investasi akan semakin banyak," jelas Jokowi.

Apa yang sudah dilakukan pemerintah selama ini, lanjut Jokowi, baru separuh jalan. Artinya butuh modal kedua, yakni revolusi pola pikir (mindset), bahwa industrialisasi akan memperkuat ekonomi. Dengan demikian akan memperkuat hilirisasi untuk memperkuat daya saing.

Baca Juga: Meski Turun, Indeks Keyakinan Konsumen Masih Terjaga

Revolusi konsumen, lanjut Jokowi, jangan menjadikan kita sebagai bangsa konsumen, hanya menikmati. Seharusnya memacu jadi bangsa produsen. Jadi, bangsa yang produktif dan terus berinovasi, sehingga jadi pemenang di pasar.

Caranya? Investasi bukan hanya pabrik dan tenaga kerja. Tapi, membuat lebih banyak tenaga muda pengusaha menguasai teknologi di berbagai bidang, mulai dari perikanan hingga perhotelan. Tidak hanya di kota, daerah punya peluang besar, baik kecil, besar, sedang.

"Semua itu butuh spill over, pengusaha jangan hanya jadi penonton, pemerintah akan berbuat, agar spill over terwujud," jelas Jokowi.