Industri Sawit Dihantui Ancaman UE, Biofuel Jadi Solusi

Rosmayanti - Agribisnis

Rabu, 11 September 2019 16:31 WIB

industri sawit dihantui ancaman ue, biofuel jadi solusi

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kali ini menggelar Roadshow Kelapa Sawit edisi keempat di Pontianak, Kalimantan Barat, hari ini (11/9/2019). Sebelumnya sosialisasi Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi ini telah dilakukan di Jakarta, Aceh, dan Padang.

Pada edisi kali ini, Tofan Mahdi (Wakil Presiden PT Astra Agro Lestari Tbk) didaulat menjadi moderator. Sementara Fajril Amirul (Senior Staf Divisi Biodisel BPDP KS), Satrija Budi Wibawa (Pengurus Gapki Pusat), Muhamad Ihsan (Pemimpin Umum Warta Ekonomi), Tungkot Sipayung (Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute/PASPI), dan Gusti Hardiansyah ( Dekan Fakultas Kehutanan Untan) menjadi narasumber.

Dalam roadshow ini, mengemuka bahwa kelapa sawit saat ini menghadapi pemasalahan fluktualisasi harga. Harga sawit tergerus dalam beberapa bulan terakhir, akibat dari regulasi beberapa negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia.

Baca Juga: September 2019, Harga Referensi CPO Naik dan Biji Kakao Turun

Menurut Catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pada April 2019, ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan sebanyak 18% dibandingkan total ekspor pada Maret lalu.

Perusahaan perkebunan kelapa sawit harus terus meningkatkan produktivitasnya, meskipun di sisi lain ancaman Uni Eropa yang berusaha menghentikan impor CPO, termasuk dari Indonesia, masih terus menghantui industri ini.

Salah satu upaya dalam meningkatan produktivitasnya ialah renewable kelapa sawit, dengan mengembangkan biofuel berbahan dasar kelapa sawit. Kini banyak negara mulai mengembangkan bioeco energy (biofuel).

Sumber energi tersebut dianggap yang paling tepat menggantikan energi fosil karena mudah diproduksi dan berasal dari sumber daya alam hayati yang tentu sangat ramah terhadap lingkungan. 

Salah satu bahan dasar yang memiliki potensi paling tinggi untuk produksi biofuel adalah minyak kelapa sawit (CPO). Pengembangan industri kelapa sawit nasional memiliki prospek yang baik karena saat ini Pemerintah Indonesia sedang menjalankan program pengembangan biofuel (biodisel) yang menggunakan CPO sebagai bahan bakunya.

Biofuel dinilai sangat efisien karena menggunakan bahan-bahan yang jumlahnya melimpah di Indonesia dan dapat diperbaharui. Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia dengan perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia, sehingga sudah selayaknya Indonesia ditempatkan sebagai rujukan pengembangan kelapa sawit dunia.

Baca Juga: Gapki Gandeng IPB Kembangkan Sawit Berkelanjutan

Senada dengan apa yang dikatakan Gubernur Kalimantan Timur yang mendukung sawit sebagai energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dia menantang seluruh asosiasi harus membangun lembaga sertifikasi sebagai corporate social responsibility (CSR) di Kalimantan Barat.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pun menyatakan kesiapannya memberikan komitmen penuh terhadap program pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan ekonomi yang berkelanjutan di Kalimantan Barat, termasuk membangun lembaga sertifikasi tenaga kerja.

Ke depannya seluruh industri akan bergeser pada industri yang bersumber dari sumber daya hayati, salah satunya adalah bahan bakar yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan.