Menjaring Ikan Secara Berkelanjutan di Kawasan Restorasi Ekosistem Riau

Cahyo - Agribisnis

Kamis, 08 Agustus 2019 10:03 WIB

menjaring ikan secara berkelanjutan di kawasan restorasi ekosistem riau

Meski usianya sudah mencapai 56 tahun, semangat Bachtiar untuk menyokong ekonomi keluarga tidak pernah surut. Sehari-hari, pria beranak sembilan itu bekerja sebagai nelayan dengan menjaring ikan di Sungai Serkap, Riau.

Selama ini, Sungai Serkap menjadi sumber air dari pohon-pohon lebat dalam kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER). Sungai Serkap pun menjadi sumber mata pencahariaan untuk Bachtiar sejak tahun 2007, dengan bermodal jaring dan sampan.

Menjadi nelayan ditekuni Bachtiar setelah dirinya ingin mengubah nasibnya, dari sebelumnya menjadi pembalak liar hutan alam atau yang lebih kerap disebut aktivitas illegal logging. "Dulu saya sempat membangun kanal-kanal liar untuk mengeluarkan kayu alam dari hutan yang ada di Riau. Namun semenjak beberapa teman saya ditangkap polisi di awal tahun 2000-an, saya memutuskan untuk berhenti dari illegal logging," tuturnya.

Baca Juga: RAPP Ajak Anak-Anak Lawan Kebakaran Hutan dan Lahan

Untungnya, Bachtiar dan penduduk sekitar Sungai Serkap lainnya mendapat edukasi mengenai penangkapan ikan. Pekerjaan lama yang tidak patuh hukum itupun iya tinggalkan.

Bachtiar bersama 20 orang anggota Kelompok Nelayan Serkap Jaya Lestari melakukan penangkapan ikan secara berkelanjutan. Kegiatan penangkapan ikan tersebut harus sesuai dengan cara-cara yang tidak merusak lingkungan. Berbagai jenis ikan mereka jual seperti ikan Tapah, Kelabau, Bujuk, Toman, Baung, Selais, Sepotang, dan ikan Gabus.

Edukasi mengenai penangkapan ikan secara berkelanjutan tersebut dilakukan oleh RER secara rutin kepada kelompok nelayan. Dimulai pada tahun 2017, RER membantu nelayan dengan memberikan 360 kg alat tangkap ikan, enam gulung benang jaring, serta 11 mesin perahu.

"RER bekerja sama dengan kelompok nelayan Serkap Jaya Lestari sejak tahun 2016. Kami mengedukasi mereka tentang bahaya penggunaan sentrum dan racun dalam menangkap ikan karena aktivitas ilegal ini akan berdampak langsung pada turunnya populasi ikan," jelas Edy, manager RER di Semenanjung Kampar. 

Berkat edukasi dan pengelolaan yang tepat, Bachtiar dan masyarakat sekitar merasakan manfaatnya. Bachtiar teringat di mana dalam sebulan ia berhasil menangkap lebih dari 700 kg ikan dan berhasil meraup hingga Rp42 juta dalam sebulan.

Hasil dari penjualan ikan inilah yang digunakan Bachtiar untuk menghidupi istri dan menanggung pendidikan anak-anaknya. Tak lupa, Bachtiar menyisihkan sebagian besar penjualan ikan untuk tabungan masa depan.

RER merupakan wilayah restorasi dan konservasi di lahan gambut seluas 150.000 ha yang diinisiasi oleh Grup APRIl sejak 2013. Terletak di Semenanjung Kampar, RER melindungi, merestorasi, dan mengonservasi ekosistem di lahan gambut serta menjaga stok karbon dan melestarikan keanekaragaman hayati di dalam konsesi.