Dolar Kuat, Harga Aksesoris dan Suku Cadang Mobil Membengkak

Ferry_hidayat - Otomotif

Jum'at, 14 September 2018 21:00 WIB

dolar kuat, harga aksesoris dan suku cadang mobil membengkak

Penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang terjadi belakangan ini berdampak terhadap naiknya harga penjualan aksesoris mobil, terutama yang diimpor harganya mulai. Seperti di pasar mobil Kemayoran, Jakarta, sejumlah pedagang aksesoris mobil mengaku telah menaikkan harga beberapa barang jualannya.

Salah seorang karyawan dari Karunia Prima Motor, Syeni, Jumat mengungkapkan sejak beberapa minggu terakhir, beberapa aksesoris seperti karpet dasar, kunci stang dan sarung jok harganya mulai meningkat, besarannya mulai dari Rp3000 hingga Rp5000. Meski terjadi kenaikan harga, tetapi pembeli yang datang ke tokonya masih terbilang cukup banyak, walaupun jumlahnya mengalami penurunan dibanding beberapa bulan sebelumnya.

Lain halnya dengan Yanti. Pemilik toko aksesoris Yanti Prince's itu mengatakan lonjakan harga aksesoris mobil di tempatnya cukup besar. Harga karpet dasar yang sebelumnya Rp155.000 kini menjadi Rp165.000. lalu harga penutup mobil (body cover) yang awalnya Rp225.000 kini melambung hingga Rp295.000.

"Saya belum ambil lagi (ke penyedia barang), tapi saya yakin seperti towing bar, atau sarung jok itu juga naik harganya," ucap Yanti.

Penguatan mata uang dolar AS terhadap rupiah juga berimbas pada naiknya harga suku cadang (sparepart) mobil. Pemilik toko Sinar Surya Motor, Jimmy mengatakan harga suku cadang, baik produk lokal maupun impor mengalami lonjakan. Harga kampas rem untuk mobil Daihatsu Gran Max buatan lokal naik dari Rp105.000 menjadi Rp160.000. Sementara harga kampas rem impor untuk mobil Daihatsu Sirion yang awalnya Rp550.000 kini Rp650.000.

Kenaikan harga juga terjadi pada suku cadang mobil lainnya, seperti karburator, seal oli, shockbreaker dan fan belt. Di beberapa toko, kenaikannya berkisar antara 5 sampai 15 persen. Baik Yanti maupun Jimmy mengaku kenaikan harga aksesoris dan suku cadang mobil ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap penjualan mereka.

Walaupun enggan membeberkan data yang pasti, tapi keduanya menyebut tahun ini sebagai tahun penjualan yang paling sepi "Pokoknya sejak dolar naik itu memang terasa penurunannya," pungkas Jimmy.