Manfaatkan Data Medsos untuk Diplomasi Digital

Fauziah_hidayah - Nasional

Kamis, 12 Juli 2018 16:24 WIB

manfaatkan data medsos untuk diplomasi digital

Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 260 juta jiwa dan berada di peringkat 4 dunia, Indonesia memiliki rekor dalam perkembangan teknologi digital. Indonesia berada di peringkat 6 pengguna internet terbanyak dengan jumlah 125 juta dan pengguna media sosial di peringkat 3 dunia dengan jumlah 140 juta dan peringkat 4 untuk pengguna Twitter dengan jumlah 59 juta. 

Banyaknya pengguna media sosial (medsos) bukan tanpa tantangan, banyaknya akun media sosial tersebut rentan disalahgunakan untuk menyebarkan iformasi yang tidak benar alias hoax. Akibatnya, pemerintah melalui instansi terkait yang berurusan dengan informasi seringkali disibukkan untuk meluruskan informasi yang sebenarnya. 

Seharusnya, media sosial digunakan untuk kegiatan yang lebih positif, antara lain menyampaikan informasi yang benar dan bermanfaat. Pihak terkait sendiri, melalui media sosial dapat memanfaatkannya untuk meneruskan informasi yang bermanfaat, pengambilan keputusan sebuah kebijakan, serta sarana negosiasi untuk kepentingan negara. 

Demikian diungkapkan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, saat membuka seminar digital diplomasi di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (12/7/2018). Kemenlu sendiri saat ini telah membangun sistem Digital Comand Center, termasuk di dalamnya big data. Melalui sistem tersebut, Kemenlu mendapatkan informasi terkini dan terdepan. Dengan digital, diplomatiknya bermanfaat untuk mempermudah komunikasi dan mempercepat pengambilan keputusan. 

Ditjen IDP Kemenlu, Achmad Ramadan, menambahkan, diperlukan inovasi di semua aspek. Dulu, di era 1990 awalnya Kemenlu hanya punya website, tapi sekarang butuh berbagai paltform media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube. Berbagai platform tersebut digunakan agar bagaimana kebutuhan informasi tersampaikan dengan baik ke masyarakat. 

Projects Manager Diplo Geneva Internet Platform, Shita Laksmi, mengatakan, seminar tersebut menjadi momentum untuk memberikan pemahaman awal mengenai digital diplomasi agar lebih membumi serta sinergi antara berbagai pihak. Ke depan juga akan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat sistem yang lebih canggih. 

Daniel Oscar Baskoro dari Pulse Lab Jakarta, laboratorium inovasi data yang dipunyai PBB di Jakarta, melihat berbagai isu yang beredar di medsos menjadi hal yang kekinian. Tak hanya sekadar medsos, tapi bagaimana menghasilkan informasi untuk pengambilan kebijakan. 

"Misal, terjadi perubahan regulasi di Amerika, Eropa, dengan data dapat diolah untuk membuat kebijakan di masyarakat," katanya.