Jaringan '98: Menarik Bila 2019 Prabowo-Anies Versus Jokowi-Puan

Ratih_rahayu - Politik

Senin, 18 Juni 2018 08:20 WIB

jaringan '98: menarik bila 2019 prabowo-anies versus jokowi-puan

Jejaring aktivis gerakan reformasi yang berhimpun di Jaringan '98 berharap proses dan tahapan Pemilu yang rencananya akan digelar pada Rabu, 17 April 2019 mendatang berlangsung jujur, adil, dan damai.

Juru Bicara Jaringan '98, Ricky Tamba, menuturkan, sepertinya, hanya ada 2 bakal Capres RI yang potensial maju berkompetisi, yakni Prabowo Subianto dari oposisi kerakyatan dan Joko Widodo sebagai petahana.

"Alhamdulillah Idul Fitri berlangsung kondusif, demikian pula harapan situasi nasional jelang pendaftaran Capres-Cawapres ke KPU bulan Agustus. Publik menunggu siapakah yang akan menjadi Cawapresnya Prabowo dan Jokowi. Pemilihan tokoh yang digandeng berpengaruh ke kepastian partai pengusung. Selain itu, akan membuat rakyat mengerti lebih awal tentang karakteristik kepemimpinan dan pertarungan gagasan dari pasangan yang dimajukan," terang Ritam, sapaan akrabnya, melalui pesan elektronik ke media, Senin (18/6/2018).

Lanjut Ritam, bila Prabowo Subianto menggandeng Anies Baswedan, lanjut dia, akan menjadi sebuah perpaduan yang menarik bagi rakyat. Beberapa partai selain Gerindra diprediksi akan tertarik turut mengusung.

Di sisi lain, walau sudah ada puluhan tokoh nasional yang memiliki keinginan dilamar, petahana Joko Widodo sebaiknya memperhitungkan figur muda Puan Maharani yang baru berusia 45 tahun sebagai cawapresnya. Selain faktor kepastian partai pengusung yakni PDI Perjuangan, jumlah basis massa hampir 24 juta pemilih solid di Pileg 2014 menjadi variabel penting dalam kontestasi elektoral.

Menurut Ritam, menarik bila 2019 Prabowo-Anies versus Jokowi-Puan. Pihaknya yakin tingkat partisipasi pemilih akan meningkat dan politik elektoral menghasilkan kepemimpinan yang legitimasinya kuat dan berkarakter. Harapannya, proses regenerasi dapat berjalan alamiah serta Pemilu 2019 akan berlangsung jujur, adil, dan damai.

"Jauhi segala upaya kecurangan, manipulasi data dan penyalahgunaan kewenangan yang dapat menciderai semangat demokrasi. Kalah legawa, menang tak jumawa. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menjaga dan memberkahi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta," pungkas Ricky Tamba.