Gaji Wanita 16% Lebih Rendah dari Pria di Tingkat Global, Indonesia?

Ratih_rahayu - Finansial

Kamis, 17 Mei 2018 13:11 WIB

gaji wanita 16% lebih rendah dari pria di tingkat global, indonesia?

Sebuah penelitian global secara mendalam yang dilakukan Korn Ferry (NYSE: KFY) menunjukkan terjadinya perbedaan gaji antara pria dan wanita. Secara global, wanita memperoleh penghasilan sekitar 16% lebih rendah dari pria.

Korn Ferry Head of Rewards and Benefits Solutions, Bob Wesselkamper, menuturkan, hal ini disebabkan sebagian besar karena sedikitnya jumlah wanita yang berada pada posisi dengan gaji tinggi dibandingkan dengan pria. Selain itu, masih banyak perusahaan dengan jumlah karyawan wanita yang berpenghasilan lebih rendah dibandingkan karyawan pria, di posisi pekerjaan yang sama.

"Secara rata-rata, ketika kami membandingkan wanita dan pria pada posisi pekerjaan yang sama, kesenjangan ini berkurang secara signifikan," tutur Bob dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Penelitian ini menganalisis informasi dari data gaji milik Korn Ferry, yang merupakan data terbesar di dunia, untuk membuat Korn Ferry Gender Pay Index. Index ini merupakan sebuah analisis gender dan gaji lebih dari 12,3 juta karyawan di 14.284 perusahaan, di 53 negara di seluruh dunia.

Korn Ferry Gender Pay Index menunjukkan bahwa ketika menganalisis posisi pekerjaan yang sama, misalnya level direktur, kesenjangan menurun menjadi 5,3%. Sedangkan pada posisi pekerjaan yang sama di perusahaan yang sama, kesenjangan ini semakin menurun menjadi 1,5%. Dan ketika karyawan pria dan wanita berada pada posisi pekerjaan yang sama di perusahaan yang sama serta bekerja di fungsi yang sama, maka perbedaan gaji mereka adalah 0,5% secara rata-rata.

Perbedaan gaji ini dapat diatasi jika perusahaan berniat mengatasinya dan senantiasa meningkatkan jumlah karyawan wanita yang menduduki posisi berpenghasilan tinggi, termasuk dalam jajaran manajemen senior dan fungsi seperti engineering dan disiplin ilmu-ilmu teknik lainnya.

Di Asia, kesenjangan gaji antara pria dan wanita semakin lebar di negara-negara maju (seperti Australia, Selandia Baru), bahkan lebih tinggi dari angka kesenjangan secara global yaitu 19,3%. Perbedaan gaji di negara-negara berkembang (Tiongkok, India) dan negara yang berkembang pesat (Indonesia, Vietnam), perbedaannya sedikit lebih rendah, yaitu 14,4% dan 11,5%.

Pada posisi pekerjaan yang sama, perbedaan ini turun menjadi 6% di negara-negara maju; 4,9% di negara-negara berkembang; dan 2,2% di negara-negara yang sedang berkembang pesat.

Di Indonesia, rata-rata perbedaan gaji antara pria dan wanita adalah 5,3%. Hal yang menarik adalah pada level yang sama, karyawan wanita diuntungkan dengan perbedaannya negatif, yaitu -1,2%. Pada job level yang sama di perusahaan yang sama, perbedaannya -1,7%. Hal ini menguntungkan karyawan wanita.

Ketika karyawan pria dan wanita berada di posisi pekerjaan yang sama di perusahaan yang sama serta bekerja di fungsi yang sama, rata-rata perbedaan gaji ini tetap menguntungkan karyawan wanita yaitu -4,1%.

Hal ini menunjukkan bahwa akar permasalahan perbedaan gaji antara pria dan wanita bukanlah karena wanita dan pria tidak memperoleh gaji yang semestinya pada posisi pekerjaan yang sama, namun lebih kepada adanya ketidakseimbangan tenaga kerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah lebih banyak pria berada pada posisi senior manajemen perusahaan di sektor dan fungsi pekerjaan yang bergaji lebih tinggi, sedangkan wanita lebih banyak berada pada posisi pekerjaan yang lebih rendah di perusahaan.

Senior Client Partner, Regional Rewards, and Benefits Leader for Asia Pacific Korn Ferry Hay Group, Dhritiman Chakrabarti, menuturkan kesetaraan gaji masih merupakan sebuah masalah nyata, namun hal ini dapat diatasi dengan upaya berkelanjutan untuk memberdayakan, mendukung, dan menyeleksi tenaga ahli wanita untuk meraih posisi yang lebih tinggi.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa wanita memiliki keahlian dan kompetensi yang dibutuhkan untuk meraih posisi yang lebih tinggi di perusahaan. Hal ini merupakan tanggung jawab perusahaan untuk mendukung mereka," tutur Dhritiman.