Indonesia Darurat Bahan Baku Obat

Ratih_rahayu - Majalah

Rabu, 14 Februari 2018 18:06 WIB

indonesia darurat bahan baku obat

Kebutuhan Bahan Baku Obat (BBO) saat ini 95% masih dipenuhi dari pasar impor. Data tersebut dikeluarkan oleh Indonesia Pharma Materials Management Club (PMMC). Impor bahan baku farmasi sebagian besar didatangkan dari Cina, India, Jepang, dan beberapa negara Eropa. Porsi bahan baku tersebut akan berpengaruh terhadap struktur harga obat, sekitar 20%—30% dari harga jual dari pabrik. 

Untuk mengurangi ketergantungan bahan baku obat, pemerintah telah mendorong investasi industri farmasi dengan mengembangkan bahan baku farmasi dengan membuat pabrik bahan baku. Dukungan pemerintah ini terlihat dari adanya sejumlah kerja sama perusahaan farmasi lokal dengan asing untuk membangun pabrik bahan baku di Indonesia. 

Selain menjalin kerja sama dengan pihak asing, pemerintah juga mendorong perusahaan farmasi nasional untuk menggunakan bahan baku alami. Untuk itu, pemerintah mencoba menyediakan insentif bagi inovasi dan vokasi di industri yang menggunakan bahan baku dari dalam negeri.

Langkah seperti ini juga dilakukan oleh Thailand dengan memberikan insentif hingga 300% untuk industri yang melakukan inovasi di industri farmasi, dan insentif sebesar 200% untuk industri yang melakukan pendidikan vokasi. Indonesia termasuk dalam tiga besar negara dengan keragaman spesies tanaman yang berlimpah, dengan jumlah spesies vascular plant mencapai 29.375 ribu.

Tren penggunaan produk alami atau herbal secara global juga mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Jika dicermati, proses impor bahan baku obat berupa bahan alami merupakan yang terbesar untuk kebutuhan farmasi di dalam negeri, yaitu mencapai 55%. Jika rencana tersebut dijalankan, tidak mustahil pemerintah dapat mencapai tujuan peta jalan (roadmap) industri farmasi Indonesia.

Kebutuhan Bahan Baku Obat

Bahan Natural 55%
Vitamin 23%
Antibiotik 6%
Dekongestan 4%
Anti-Inflamasi 3%
Lainnya 6%