Connecting Sport Industry in One Place

Ratih_rahayu - Majalah

Rabu, 17 Januari 2018 15:37 WIB

connecting sport industry in one place

Doogether memiliki fitur pencarian tempat olahraga yang dapat dicari berdasarkan jenis olahraga atau lokasi. Fitur utama aplikasi ini adalah untuk memesan dan membayar, setelah itu pengguna tinggal datang dan berolahraga. Fitur lainnya adalah melihat jadwal dan mencari kelas atau komunitas.

Ada banyak kata untuk memaknai olahraga, mulai dari kebutuhan, hobi, hingga life style. Yang jelas, olahraga adalah aktivitas yang tidak ada matinya. Olah raga telah menjadi tren, pantas saja bila tempat dan ragam olahraga semakin banyak. 

Pertumbuhan tempat olahraga menjadi pertanda adanya peningkatan kebutuhan orang-orang melakukan olahraga, banyak permintaan maka banyak pula penawarannya. Bagi mereka yang sudah rutin berolahraga, pasti pernah mengalami kehabisan tempat atau harus menunggu giliran untuk menggunakan tempat berolahraga. Untuk memastikan mendapatkan tempat, mereka harus booking jauh-jauh hari sebelumnya atau menjadi member.

Pengalaman yang sama juga dialami oleh Fauzan Gani. Pemuda yang berusia 24 tahun bercerita, di akhir tahun 2015 saat kuliah di Australia, ia bersama teman-temannya ingin olahraga Muay Thai. Saat itu, tempat yang ditemukannya tidak merespons saat di-booking melalui telepon.

Saat itulah muncul dalam benaknya, kenapa tidak ada platform olahraga yang proses booking-nya semudah transportasi dan hotel? Pengalaman tersebut memunculkan ide untuk membuat Doogether, yakni sebuah aplikasi untuk menemukan dan memesan tempat olahraga berdasarkan lokasi terdekat.

Nama Doogether diambil dari kata olahraga yang berarti ‘harus dilakukan sendiri ataupun bersama-sama’. Fauzan yang tidak lain adalah CEO Doogether berharap aplikasi tersebut tidak hanya memudahkan orang yang ingin mencari tempat untuk menyalurkan hobi atau kebutuhannya berolahraga, tetapi juga dapat memotivasi masyarakat yang tidak pernah berolahraga untuk mulai berolahraga. 

Aplikasi Doogether memiliki fitur pencarian tempat olahraga yang dapat dicari berdasarkan jenis olahraga atau lokasi. Fitur utama aplikasi ini adalah untuk memesan dan membayar. Setelah itu, pengguna tinggal datang dan berolahraga. Fitur lainnya adalah melihat jadwal dan mencari kelas atau komunitas. 

“Saat ini, kami sudah memiliki lebih dari 80 tempat olahraga di Jakarta dan 30 jenis olahraga, mulai dari semua jenis Yoga, Muay Thai, Boxing, Taekwondo, Wall Climbing, dan lain-lain,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Doogether.

Doogether bukan hanya sekadar aplikasi, tetapi juga sebuah komunitas yang memfasilitasi orang-orang yang ingin serius berolahraga. Doogether memiliki program Dooday, sebuah event olahraga bersama-sama yang memiliki cara unik dan menyenangkan, seperti berolahraga di rooftop atau helipad

Selain itu, Doogether juga memiliki Doofigure, orang yang dipilih oleh Doogether untuk menginspirasi orang lain berolahraga. Doofigure berasal dari orang-orang yang memiliki kesibukan dan jadwal yang padat, tetapi tetap menyempatkan waktu untuk berolahraga. 

Doofigure yang kali ini dipilih Doogether ialah dua orang artis, Hana Prinantina Malasan dan Alika Islamadina. Hana mengaku, sebelum mengenal Doogether ia mempunyai pengalaman malu-malu untuk datang kelas zumba dan olahraga lain yang belum pernah diikutinya. Namun, dengan aplikasi tersebut, artis yang menyukai Muay Thai ini tidak ragu menyempatkan berolahraga untuk mengisi waktu-waktu kosong.

Demikian juga dengan Alika. Sebelum mengenal Doogether, dia malas untuk memesan tempat karena harus datang atau menelepon. Akan tetapi, setelah melihat aplikasi Doogether, dia jadi penasaran untuk melihat-lihat tempat olahraga yang ada di sekitarnya. Hal yang paling dia sukai adalah kemudahan melihat-lihat kelas yang ditawarkan dan adanya banyak promo. “Dari yang tadinya tidak mau berolahraga jadi mau, kadang juga diajakin teman untuk berolahraga karena ada promo,” ungkap Alika.

Selanjutnya, bagi pelaku bisnis tempat olahraga, menjalin kerja sama dengan Doogether adalah keuntungan. Bisnis tempat olahraga mereka dapat ditemukan dan dipromosikan di sebuah aplikasi dengan cara yang mudah. Ditambah lagi, promo yang diadakan oleh Doogether akan semakin memberikan daya tarik dan meningkatkan kunjungan. 

Doogether juga dapat disebut sebagai manajer, sebab tim akan memikirkan bagaimana tempat-tempat olahraga yang ada dapat terlihat lebih menarik. Hal itu dilakukan dengan membuat foto yang menarik untuk keperluan penjualan. Selain itu, tim Doogether juga akan memberikan saran kepada pemilik tempat olahraga, seperti meningkatkan alat-alat yang digunakan atau membuat kelas-kelas baru. 

Fauzan menyebutkan tempat olahraga yang bergabung dengan Doogether memang tidak gratis. Doogether mendapatkan fee dari setiap transaksi yang dilakukan. Meyakinkan para pemilik tempat usaha untuk bergabung dengan Doogether merupakan salah satu tantangan. Namun, sejauh ini, setiap ajakan yang dilakukan selalu mendapat feedback positif karena kebanyakan owner sudah aware dengan teknologi. 

Manfaat kerja sama dengan Doogether sudah dirasakan oleh Tami, owner dari Toma Studio. Tami mengungkapkan, aplikasi Doogether juga sangat membantu customer karena banyak informasi yang diberikan, seperti kelas-kelas yang tentunya akan memberikan ilmu-ilmu yang sangat berguna bagi pesertanya. Informasi yang ditampilkan, termasuk instruktur, turut andil dalam meyakinkan para calon pengguna.

“Kerja sama dengan Doogether berdasarkan kesepakatan awal, promo yang ada juga bagian dari marketing Doogether untuk menggaet banyak customer. Pihak pengelola tetap memberikan harga normal, tidak ada perubahan, jadi sama-sama menguntungkan,” ungkap Tami.

Keunikan aplikasi ini mendapat sambutan positif dari beberapa agen investor, di antaranya Shinta Dhanuwardoyo, Chief Executive Officer (CEO) Bubu.com dan Erick Thohir, Presiden Komisaris Mahaka Group.

Shinta mengatakan, alasannya mendanai Doogether karena melihat Fauzan sebagai pendiri memiliki passion di bidang yang dijalankan. Selain itu, model bisnis yang dijalankan juga unik dan memiliki masa depan yang cerah. 

Lantas apa yang harus dilakukan Doogether agar bisnisnya bertahan hidup? Shinta menuturkan, hal yang lebih penting dari memberikan pendanaan adalah memberikan mentorship dalam management financial, report, dan lain-lain agar usaha yang dijalankan dapat berkembang lebih cepat. 

Shinta berpesan, tantangan terbesar untuk semua startup di Indonesia adalah market yang sangat besar, dan Indonesia harus menjadi player bukan user. Saat ini, Indonesia memang masih kekurangan skill developer atau programer, tetapi semua itu bisa diatasi jika kita menguasai market

“Saya berharap tahun ini, mereka (Doogether) bisa mengetahui cara mengembangkan platform bukan hanya di Jakarta, tetapi juga semua kota besar di Indonesia, sampai ke negara tetangga,” kata Shinta. 

Doogether yang dibuat sekitar satu tahun lalu ini telah mencatatkan 12 ribu booking dan 62 ribu kelas. Tahun ini, Doogether memiliki target untuk menyediakan 150 tempat olahraga di seluruh Indonesia dan terus mengembangkan fitur-fitur yang dibutuhkan.