Kemendag Mau Impor Beras, Gubernur Sulsel: Itu Tidak Haram

Cahyo - Riil

Minggu, 14 Januari 2018 13:57 WIB

kemendag mau impor beras, gubernur sulsel: itu tidak haram

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) berencana membuka keran impor beras khusus. Kebijakan itu ditempuh menyusul melonjaknya harga beras di pasaran. Rencananya, Indonesia akan mengimpor beras khusus sebesar 500 ribu ton dari Thailand dan Vietnam.

Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo berpendapat langkah Kemendag untuk mengimpor beras khusus bisa dimaklumi. Kebijakan tersebut dinilainya tidaklah melanggar aturan. Terlebih bila muaranya menjaga stabilitas harga pangan demi kesejahteraan masyarakat.

"Impor yang direncanakan pemerintah tidak haram. Kita bisa maklumi kondisinya," kata dia di Makassar, Sabtu (13/1/2018).

Gubernur Syahrul lebih jauh enggan menanggapi perihal kebijakan impor beras. Lebih baik, kata dia, mempersiapkan segala sesuatunya termasuk Sulsel sebagai daerah produsen ingin membantu provinsi lain dengan menyuplai beras ke-33 provinsi di Indonesia. Untuk itu, ia bersama Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto mengecek gudang Bulog Sulselbar.

Berdasarkan hasil peninjauan di Gudang Bulog Sulselbar, tepatnya di Kawasan Panaikang, Kota Makassar, stok beras di Sulsel mencapai 82 ribu ton. Tingkat ketahanan pangan dipastikan aman hingga 20 bulan ke depan. Selanjutnya, merujuk pengecekan harga beras di dua pasar tradisional di Kota Makassar, didapati memang adanya kenaikan harga. Tapi, harga beras itu relatif stabil dan masih di bawah HET.

Kepala Divisi Perum Bulog Sulselbar Dindin Syamsuddin sebelumnya menanggapi santai kebijakan pemerintah yang ingin mengimpor beras khusus dari Thailand dan Vietnam. Pihaknya yakin Sulsel tidak akan terpengaruh. Toh, Sulsel tidak memiliki sejarah menerima beras malah dikenal sebagai daerah pengekspor.

"Sulsel itu pengekspor beras. Enggak ada itu sejarah (Sulsel) terima beras. Insya Allah, daerah kita aman. Lihat sendiri, stok cukup dan harga relatif stabil, bahkan rata-ratanya di bawah HET sebesar Rp9.450 per kilogram. Kita juga sudah melakukan operasi pasar dengan menjual beras seharga Rp9.000 per kilogram," pungkas Dindin.