Pasca-Demonstrasi, Tunisia Akan Tingkatkan Bantuan ke Warga Miskin

Cahyo - Internasional

Minggu, 14 Januari 2018 06:19 WIB

pasca-demonstrasi, tunisia akan tingkatkan bantuan ke warga miskin

Tunisia berencana untuk meningkatkan bantuan ke keluarga miskin dan orang-orang yang membutuhkan, kata sebuah sumber pemerintah setelah demonstrasi terjadi di negara Afrika Utara itu.

Sumber tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut namun ini adalah pertama kalinya seorang pejabat berbicara mengenai peningkatan bantuan sejak demonstrasi untuk menentang aksi penghematan yang diberlakukan pemerintah guna mengurangi defisit anggaran.

Pegiat dan oposisi telah menyeru dilakukannya aksi unjuk rasa baru pada Minggu di hari peringatan ketujuh penggulingan Zine El-Abidine Ben Ali, pemimpin pertama yang terguling akibat aksi demonstrasi "Kebangkitan Arab" pada tahun 2011 yang menyapu kawasan ini.

Protes tersebut muncul akibat kemarahan atas kenaikan harga dan pajak yang termasuk dalam anggaran tahun ini yang mulai berlaku pada 1 Januari. Pemerintah telah menyalahkan oposisi dan "pembuat onar" karena menimbulkan keresahan, sebuah tuduhan yang ditolak oleh oposisi.

Hampir 800 orang telah ditangkap karena vandalisme dan melakukan aksi kekerasan seperti melempar bom bensin ke kantor polisi, kementerian dalam negeri mengatakan pada Jumat. Harga bakar dan beberapa barang konsumsi telah mengalami peningkatan. Sementara itu pajak atas mobil, telepon, internet, akomodasi hotel, dan barang lainnya juga telah naik.

Tunisia dipuji sebagai satu-satunya negara yang berhasil merangkul demokrasi dalam Kebangkitan Arab, salah satu negara Arab yang berhasil menggulingkan pemimpin lama dalam pemberontakan tahun itu tanpa memicu kekerasan atau perang sipil yang meluas. Politisi Tunisia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2015 untuk mencapai perubahan tanpa kekerasan.

Tapi Tunisia memiliki sembilan pemerintahan sejak penggulingan Ben Ali dan tidak ada satupun yang mampu menyelesaikan masalah ekonomi yang mengakar. Perekonomian memburuk sejak gelombang serangan militan mematikan pada tahun 2015 dan belum pulih sekalipun keamanan telah membaik.

Sebelumnya polisi Tunisia dilaporkan bentrok dengan pengunjuk rasa menentang pemerintah di setidak-tidaknya lima kota, termasuk distrik ibu kota, Tunis. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan orang di Tunis dan Tebourba, kota kecil di luar ibu kota, tempat seorang penentang tewas pada Senin (8/1).

Unjuk rasa meletus di setidak-tidaknya 12 kota di Tunisia, di antaranya kota wisata Sousse dan Hammamet, menentang kenaikan harga dan pajak, yang diberlakukan pemerintah untuk mengurangi defisit, yang membengkak, dan memuaskan kreditor internasional.

Eropa prihatin dengan ketidakstabilan di Tunisia, sebagian karena pengangguran telah memaksa banyak orang muda Tunisia untuk pergi ke luar negeri. Jumlah kapal penyelundup pengungsi ke Italia telah meningkat dan Tunisia juga telah menghasilkan jumlah gerikyawan terbesar yang menuju medan perang di Irak, Suriah, dan Libya.