Entaskan Kemiskinan, Pemkab Lebak Kembangkan Pertanian

Ratih_rahayu - Agribisnis

Sabtu, 13 Januari 2018 14:36 WIB

entaskan kemiskinan, pemkab lebak kembangkan pertanian

Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, mengembangkan sektor pertanian untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan di daerah itu. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak, Dede Supriatna, mengatakan pemerintah daerah memfokuskan perhatian terhadap sektor pertanian karena menyumbangkan cukup besar pada pendapatan domestik regional bruto (PDRB) (13/1/2018).

Selain itu, juga fokus pada pengembangan pertanian pangan, hortikultura, palawija dan perkebunan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah daerah mendorong pengembangan sektor pertanian guna mendongkrak produktivitas pangan, terlebih wilayahnya sebagian besar merupakan daerah agraris dan bisa menyumbangkan ekonomi cukup besar.

Selama ini, penghasilan petani di daerah ini, seperti pangan, sayur-sayuran, dan buah-buahan, menjadi andalan di Provinsi Banten. Bahkan, sebagian produksi pertanian itu dipasok ke Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, seperti kacang panjang, ketimun, terung, buah durian, rambutan, manggis, dan duku.

"Semua produk pertanian itu tentu membangkitkan ekonomi masyarakat, juga bisa meminimalisasi kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan," ujarnya menjelaskan.

Menurut dia, pemerintah daerah menargetkan tahun 2018 angka tanam bisa mencapai 300 ribu hektare dengan pengembangan pertanian pangan, sayur-sayuran, palawija, dan perkebunan.

Selain itu, pihaknya optimis Lebak menjadi sentra lumbung pangan beras melalui gerakan percepatan tanam. Bahkan, produksi pangan dapat memenuhi ketersediaan beras untuk masyarakat lokal serta memberikan sumbangan pangan kepada Provinsi Banten, juga Nasional," katanya.

Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak, Yosep Muhammad Holis, mengatakan selama ini sektor pertanian dan perkebunan memberikan kontribusi PDRB mencapai 36% sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat serta menyerap lapangan pekerjaan.

Selama ini, anggaran pertanian cukup besar untuk menyalurkan bantuan sarana produksi (saprodi) kepada kelompok tani, diantaranya pupuk, pestisida, perbaikan jaringan irigasi, embung, dan pompanisasi. Selain itu, ada pula bantuan alat pertanian (alsintan), seperti traktor, mesin pengering, dan pabrik pinggilan beras.

Pemerintah daerah juga membangun infrastuktur akses jalan guna memudahkan petani mengangkut hasil produksi komoditas pertanian. Peningkatan kompetensi petani melalui pelatihan-pelatihan juga turut dioptimalkan sehingga dapat menerapkan rekayasa teknologi pertanian.

"Kami optimistis sektor pertanian itu sesuai kebijakan program "Lebak Sejahtera" yang digulirkan pemerintah daerah guna mengatasi kemiskinan dan pengangguran," katanya menjelaskan.

Ia mengatakan, selama ini, Kabupaten Lebak menjadi sentra lumbung pangan di Provinsi Banten dengan surplus 15 bulan kedepan. Panen padi di Kabupaten Lebak dengan produktivitas di atas nasional 5,6 ton gabah kering pungut per hektare. Bahkan, Lebak mampu memasok beras ke berbagai daerah, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung.

"Kami terus melakukan intervensi bantuan pemerintah daerah guna mendongkrak usaha lumbung pangan," ujarnya.

Sementara itu, Dudung (55) petani di Kecamatan Warunggunung mengaku sebagian besar petani di sini sudah mengembangkan budidaya tanaman sayur-sayuran. Petani di sini, kata dia, setiap hari sudah bisa memasok hasil tanaman sayur-sayuran ke Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang dan Pasar Rangkasbitung, diantaranya kacang panjang, ketimun, paria, dan terung.

"Kami bisa mengembangkan usaha budidaya tanaman sayuran karena cukup menjanjikan pendapatan ekonomi," katanya.