Mendagri: Sinergi TNI Wujudkan Indonesia Jadi Poros Maritim

Vicky - Nasional

Rabu, 13 Desember 2017 15:34 WIB

mendagri: sinergi tni wujudkan indonesia jadi poros maritim

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, mengatakan, tiga mantra TNI baik laut, udara dan darat harus bersinergi dalam menjaga kedaulatan negara dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara poros maritim.

"Kuncinya adalah TNI Angkatan Laut yang dibantu TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat menjaga wilayah perairan Indonesia," kata Mendagri dalam sambutannya pada Puncak Hari Nusantara 2017 di Dermaga Muara Jati, Kota Cirebon, Jawa Barat, Rabu (13/12/2017).

Wilayah yang harus dijaga oleh TNI, lanjut Tjahjo, mulai dari Pulau Rondo, Natuna, Sebatik, Bitung, Morotai, Selaru hingga Atambua dan Malaka. Bahkan, dalam waktu dekat ini TNI AL akan memiliki tiga kapal selam.

"TNI AL juga memiliki 151 kapal perang yang sudah dilengkapi dengan persenjataan," tuturnya.

Menurut dia, Indonesia sebagai negara kepulauan jangan dijadikan sebagai pemisah, tetapi sebagai pemersatu bangsa. "Deklarasi Djoeanda" tanggal 13 Desember 1957, dimana deklarasi tersebut merupakan sebuah keputusan untuk menyatukan Indonesia sebagai negara kepulauan berbeda.

Pada pidato Presiden Joko Widodo, kata Tjahjo, masyarakat Indonesia sudah sejak lama memunggungi laut, samudera dan teluk. Padahal, Indonesia sebagai negara maritim, laut merupakan masa depan bangsa.

Kemudian, kementerian/lembaga menerjemahkan untuk melaksanakan pembangunan dan pengelolaan kelautan nasional, kedaulatan, dan kesejahteraan.

Oleh karena itu, pemerintah mulai memperkuat ketahanan maritim Indonesia dengan salah satu upayanya yaitu memberantas illegal fishing, agar kekayaan laut Indonesia dapat dinikmati seutuhnya oleh masyarakat Indonesia. Selain itu pemerintah juga memaksimalkan laut untuk meningkatkan efisiensi logistik dengan membangun jalur tol laut.

"Ke depan akan kami usulkan program yang berkaitan dengan maritim akan dijadikan satu, jangan kemarin ada Sail Sabang (Aceh) sekarang Hari Nusantara (Cirebon) besok hari nelayan, dan sebagainya. Ini kalau dijadikan satu makin meriah semarak, dan efisien," kata Tjahjo.

Tjahjo mengatakan, peringatan Hari Nusantara tidak hanya dilakukan secara seremonial saja, tetapi dijadikan modal pembangunan maritim, ketahanan nasional kelautan dan integrasi pulau-pulau kecil.

Menurutnya, perayaan ini akan memperkuat bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari, untuk dapat mewujudkan nawacita Indonesia sebagai poros Maritim.

"Deklarasi Djuanda merupakan tonggak penyatuan Republik Indonesia yang utuh antara pulau satu dengan pulau yang lain, sehingga tidak lagi terdapat wilayah laut internasional," ujar Tjahjo.

Dipilihnya Cirebon sebagai tempat digelarnya Hari Nusantara, tambah dia, karena memang Cirebon punya jejak sejarah sebagai daerah poros maritim. Cirebon adalah wilayah strategis sebagai jalur laut yang tegak lurus terhubung dengan Selat Sulawesi.

"Sekarang sudah ada tol laut. Diharapkan dengan adanya tol laut, perdagangan antar pulau seperti antara Jawa dan Sumatera tak lagi terhambat. Kalau ingat lagu wajib dari Sabang sampai Merauke sambung menyambung itulah Indonesia, sekarang jadi kenyataan," kata Tjahjo.