Tiga Jurus Darmin Nasution Agar Kinerja Sawit Semakin Kinclong

Fauziah_hidayah - Agribisnis

Kamis, 02 November 2017 12:28 WIB

tiga jurus darmin nasution agar kinerja sawit semakin kinclong

Meskipun produk kelapa sawit masih menghadapi berbagai isu-isu krusial dan sensitf seperti masalah lingkungan hidup, kontribusi sawit terhadap perekonomian Indonesia masih sangatlah besar. Hal ini terlihat dari produksi sawit pada 2016 mencapai 35,6 juta ton yang sebagian besar atau 25 juta ton diekspor dengan nilai devisa rata-rata USD20 miliar atau 13% dari total pendapatan devisa. 

"Kalau melihat kontribusi sawit, saya tidak menyangkal peran komoditas sawit sangatlah penting bagi perekonomian Indonesia," tandas Menko Perekonomian Darmin Nasution saat membuka Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) ke-13 di Nusa Dua, Bali (2/11/2017).

Arti penting sawit bagi perekonomian nasional juga terlihat dari keterlibatan sedikitnya 7,9 juta pekerja di perkebunan sawit ini.  Penyerapan tenaga kerja yang besar itu menjadikan industri kelapa sawit sebagai sektor yang berperan besar dalam pengentasan kemiskinan.

Untuk menjaga dan mendorong peran sawit yang strategis itu semakin kinclong lagi di masa depan, Darmin  menggulirkan tiga pilar kebijakan besar, yakni peremajaan kelapa sawit petani agar produktivitas meningkat, percerpatan penerapan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), dan menyelesaikan sengketa lahan sawit petani.

Terkait dengan peremajaan sawit, Darmin meminta pelaku industri sawit besar dan petani sawit untuk saling bahu-membahu dalam meningkatkan tingkat produktivitas sawit nasional dari saat ini. Salah satu yang bisa dilakukan dengan memakai jenis bibit unggul.

Upaya peremajaan sawit dilakukan dengan pemakaian benih unggul sawit. Hal ini diyakini Darmin sebagai solusi kala upaya ekstensifikasi sawit melalui perluasan lahan sawit untuk sementara ini belum bisa dilakukan terkait kebijakan moratorium lahan sawit. 

Langkah pemerintah dan pelaku industri dalam hal peningkatan produktivitas sawit khusus petani sawit melalui program replanting petani sawit di Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan, yang diresmikan Presiden Jokowi, belum lama ini. 

Menurut Darmin, di komoditas sawit punya kelebihan yang tidak dimiliki jenis komoditas pertanian lainnya seperti karet, cokelat, rempah-rempah, dan lainnya. Di sawit sudah terbangun satu mekanisme dimana ada kerja sama antara pelaku perkebunan besar sawit dan petani sawit yang tidak ada di komoditas lainnya. 

Tidaklah heran apabila Darmin memuji pemilihan tema pertemuan IPOC kali ini bertajuk "GrowthThrough Productivity: Partnerships with Smallholder" sudah tepat karena mengangkat arti penting kerja sama antara pelaku industri sawit besar dan petani sawit. 

"Produktivitas sawit Indonesia akan menjadi isu krusial dan tidak ada cara lain untuk menggenjot tingkat produksi sawit kecuali dengan program replanting," tandas Darmin. Program replanting bukanlah soal mengganti pohon sawit yang sudah tua saja, tapi mengganti tanaman sawit yang baru ditanam tapi dengan memakai benih palsu. 

Sementara terkait pemberlakuan ISPO, Darmin meminta agar pelaku industri sawit besar dan petani sawit agar memberlakukan standar tersebut sebagai satu garansi bahwa budi daya kelapa sawit di Indonesia merujuk standar industri yang ramah lingkungan dan sawit lestari. ISPO berisi 7 prinsip, 41 kriteria, dan 127 indikator yang harus dipenuhi perkebunan sawit.

Lalu, terkait penyelesaian sengketa lahan, melalui program replanting petani sawit di Banyuasing, Sumatera Selatan beberapa waktu lalu, pemerintah mencoba untuk mencari cara membantu petani memiliki tanah sendiri dalam cakupan luasan yang memadai.  

Darmin mengajak pelaku industri sawit nasional untuk membuka dan mencari pasar baru bagi produk sawit Indonesia di luar pasar tradisional seperti China, India, dan Uni Eropa. Ketiga pasar ekspor sawit tersebut saat ini memberlakukan bea tarif tinggi atas produk sawit Indonesia. "Dengan pasar baru tersebut, kita berharap wajah sawit Indonesia semakin cerah," ujar dia.

IPOC yang diselenggarakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) merupakan kegiatan rutin tahunan para pelaku industri sawit yang mendiskusikan masalah-masalah krusial di industri sawit. Agenda penting lain dari pertemuan ini dan dinanti 1.700 pelaku sawit yang hadir yakni price outlook sebagai prakiraan harga sawit setahun kedepan.