AirNav Buka Posko Crisis Center Gunung Agung

Vicky - Transportasi

Selasa, 26 September 2017 10:17 WIB

airnav buka posko crisis center gunung agung
Manajemen AirNav Indonesia Cabang Utama Makassar Air Traffic Service Center (MATSC) mulai membuka Posko Crisis Center untuk mengantisipasi erupsi Gunung Agung, Bali, Senin, 25 September. Posko Crisis Center dipusatkan di Kantor MATSC yang masih berada di Kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulsel. 
 
General Manager AirNav Indonesia Cabang Utama MATSC, Novy Pantaryanto, mengatakan Posko Crisis Center ditujukan sebagai wadah informasi dan komunikasi dalam mengantisipasi dampak erupsi Gunung Agung terhadap lalu-lintas penerbangan. Dari Posko Crisis Center, pihaknya akan mengatur pengalihan rute penerbangan, termasuk penyiapan bandara alternatif. 
 
"Posko Crisis Center dari AirNav hanya ada di Makassar dan akan menangani seluruh bandara yang berada di bawah kewenangan (AirNav Cabang Utama MATSC). Di bandara lain tetap melakukan operasi rutin, tapi tentunya tetap berada di bawah kendali kita," kata Novy, saat ditemui di Posko Crisis Center untuk Gunung Agung, Senin, (25/9/2017).
 
Dalam Posko Crisis Center, Novy mengatakan pihaknya akan melibatkan seluruh pihak terkait. Mulai dari para pejabat terkait dan supervisor di AirNav Indonesia, BMKG, otoritas bandara dan perwakilan maskapai penerbangan. Menurut dia, posko tersebut akan beroperasi selama 24 jam tatkala Gunung Agung meletus. 
 
"Untuk sekarang Posko Crisis Center masih dalam monitoring. Nanti tatkala sudah ada tanda-tanda aktif (erupsi Gunung Agung), maka Posko Crisis Center diaktifkan selama 24 jam," ucap Novy. 
 
Dalam tiga hari terakhir, manajemen AirNav sudah mengumpulkan seluruh data penerbangan untuk mengatur jalur alternatif dan bandara alternatif. Novy mengatakan saat Gunung Agung meletus, pihaknya memprioritaskan pesawat yang mendarat. "Untuk yang belum berangkat bisa ditahan dan yang sedang di udara akan diberi dua opsi, apakah ke bandara alternatif atau kembali ke bandara asal."
 
Hingga kini, aktivitas vulkanik Gunung Agung terus dipantau oleh PVMBG. Pemantauan dilakukan selama 24 jam, apalagi statusnya sudah ditingkatkan ke level IV atau awas. PVMBG telah memberikan rekomendasi agar warga tidak beraktivitas dalam radius 6 kilometer dari puncak Gunung Agung atau pada elevasi 950 meter di atas permukaan laut. Sedangkan untuk lalu lintas penerbangan, baik domestik maupun internasional, masih berlangsung normal.
 
Gunung Agung diketahui terakhir kali meletus rentang 1963-1964. Pada letusan Gunung Agung kala itu, proyektil material yang dilontarkan sejauh 6 kilometer dengan volume erupsi mencapai 0,84 kilometer kubik.