Pemkot Pekanbaru: Smartcity Tak Selalu Bicara IT

Cahyo - Daerah

Senin, 17 Juli 2017 18:29 WIB

pemkot pekanbaru: smartcity tak selalu bicara it

Gencarnya pembangunan infrastruktur teknologi informasi di Indonesia ikut beperan memopulerkan istilah smartcity belakangan ini. Terlebih, penyebaran smartphone yang massif membuat upaya menuju smartcity semakin memungkinkan. Kendati begitu, kota-kota di Indonesia punya cara tersendiri mengimplementasikan smartcity tersebut.

Kota Pekanbaru, misalnya, tak selalu menjadikan persoalan IT dan smartphone (aplikasi) sebagai indikator perwujudan smartcity secara optimal. Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan informasi, Kota Pekanbaru, Eka, pihaknya menjadikan smart people dan government sebagai indikator terpenting untuk smartcity.

"Membincangkan smartcity di Pekanbaru tidak selalu membicarakan IT, itu hanya alat bantu. Bagi kita ada enam penekanan yang penting untuk smartcity, yang utama smart people dan smart goverment," paparnya kepada Warta Ekonomi di Pekanbaru, belum lama ini.

Eka menambahkan dua poin tersebut juga memiliki sub-bagian, misalkan kesehatan dan pendidikan (smart people) serta tata kelola pemerintahan (smart government). Tanpa dua hal tersebut, kata Eka, secanggih apapun perkembangan maka IT pemanfaatanya tidak akan optimal untuk smartcity. Di sisi lain,selain smart people dan smart goverment, Kota Pekanbaru turut menyasar empat smart lainnya, yaitu smart economy, smart environment, smart mobility, dan smart living.

Eka tak menampik, kalau pembicaraan smartcity saat ini memang selalu diidentikkan dengan segala terobosan "berbau" IT. Tapi, baginya perkembangan IT itu tetap dipandang sebagai alat. Dalam hal ini status penggunaannya jauh lebih penting.

"Memang implementasi IT itu suatu keharusan, tapi kalau citizen dan government-nya tidak memahami nilai tambah dari perkembangan IT itu sendiri, kan juga jadi masalah. Jadi, pada prinsipnya aspek IT dalam lingkup smartcity gunanya sebagai ujung tombak efektivitas dan efesiensi untuk enam poin di atas," sambungnya lagi.

Adapun bentuk penerapan teknologi untuk smartcity ini, dicontohkan Eka, dapat dilihat dari penggunaan sistem online untuk perizinan (e-government) atau kemudahan orang-orang dalam berbelanja.

"Secara umum kita  begerak ke sana (e-government) sebagai upaya mewujudkan smartcity. Tapi kan kendala antardaerah itu berbeda-beda. Misalkan dari segi infrastruktur (listrik), kondisi Pekanbaru tidak bisa disamakan dengan Jakarta, Bandung, ataupun Surabaya. Pun begitu sumber daya manusianya. Insan-insan yang menguasai IT itu dari segi kualitas dan kuantitas tentu juga beda (antar kota)," pungkasnya.

Sekadar informasi, data yang dirangkum Warta Ekonomi menunjukkan terjadinya lonjakan belanja IT di Indonesia. Sebagai gambaran untuk tahun 2016  saja belanja IT sektor government telah menembus angka Rp210 triliun. Jumlah tersebut meningkat 8,3 persen bila dibandingkan dengan tahun 2015 yang masih di bawah angka Rp200 triliun.

Penulis: Febri Kurnia