OJK Luncurkan E-Book Literasi Keuangan Tingkat SMA

Cahyo - Finansial

Kamis, 06 Juli 2017 16:37 WIB

ojk luncurkan e-book literasi keuangan tingkat sma

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengembangkan program literasi keuangan ke berbagai kalangan dengan memperbarui materi buku literasi keuangan tingkat SMA melalui versi elektronik (e-book) dan menerbitkan buku literasi keuangan untuk segmen profesional dan pensiunan.

"OJK akan terus berupaya menyediakan materi literasi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat agar dapat membentuk masyarakat yang cerdas keuangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Kusumaningtuti S Soetiono saat peluncuran buku tersebut di Jakarta, Kamis (6/7/2017).

Buku Mengenal Otoritas Jasa Keuangan dan Industri Jasa Keuangan tingkat SMA (kelas X) sebelumnya telah diterbitkan pada tahun 2014 dan sejak bulan Juni 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menetapkan materi mengenal lembaga jasa keuangan sebagai bagian dari kompetensi inti dan kompetensi dasar pada Kurikulum 2013 (K-13) untuk tingkat SMA.

Sebagai materi wajib dalam K-13, buku tersebut perlu dimiliki oleh seluruh siswa tingkat SMA sehingga untuk meringankan biaya pencetakan dan distribusinya, OJK berinisiatif membuat buku versi elektronik atau e-book sehingga bisa lebih mudah dan murah mengakses dan mendapatkan materi buku tersebut.

Cakupan materi dalam buku tersebut antara lain adalah pengenalan OJK, perbankan, pasar modal, dan industri keuangan nonbank (termasuk perasuransian, lembaga pembiayaan, dana pensiun, dan pegadaian). Adapun dalam edisi terbaru tahun 2017 telah ditambahkan dengan materi perpajakan sebagai wujud kerja sama OJK dengan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan RI.

"Versi e-book ini didesain secara apik dengan konsep audio visual yang memiliki fungsi audio, video, dan gambar animasi yang mendukung konten buku serta disesuaikan dengan tema pada masing-masing bab sehingga memiliki tampilan yang lebih menarik dari versi cetaknya," kata Kusumaningtuti.

Selain menarik dan ramah lingkungan karena tidak perlu biaya cetak, pemanfaatan versi e-book ini juga sangat praktis dan mudah dibawa karena dapat langsung diakses dan disimpan pada PC, notebook, smartphone, tablet, maupun perangkat elektronik lainnya. Upaya ini merupakan langkah OJK dalam mengikuti perkembangan informasi teknologi yang begitu pesat di Indonesia.

Selain upaya peningkatan literasi pada jenjang edukasi formal, OJK bersama dengan industri keuangan juga berupaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui penyediaan materi literasi keuangan berupa buku yang kontennya lebih bersifat umum dan praktis untuk berbagai segmen, antara lain segmen profesional dan pensiunan. Buku-buku tersebut terdiri dari pengetahuan praktis tentang perbankan, pasar modal, perasuransian, pembiayaan, dan dana pensiun.

Buku literasi keuangan tersebut disusun berdasarkan standar core-competency dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk kelompok profesional dan pensiunan, menggunakan bahasa yang ringan dengan contoh-contoh yang lekat dengan kehidupan sehari-hari, dengan tetap mengedepankan aspek manfaat dan risiko, hak dan kewajiban, biaya-biaya, mekanisme perolehan produk, serta cara mendapatkan produk dan layanan jasa keuangan.

Buku-buku diharapkan dapat membantu masyarakat khususnya para profesional dan pensiunan dalam memahami, memilih, dan menggunakan produk serta layanan jasa keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) kedua yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2016 menunjukkan indeks literasi keuangan sebesar 29,66% dan indeks inklusi keuangan sebesar 67,82%.

Angka tersebut meningkat dibanding hasil SNLIK pada 2013, yaitu indeks literasi keuangan 21,84% dan indeks inklusi keuangan 59,74%. Dengan demikian telah terjadi peningkatan pemahaman keuangan (well literate) dari 21,84 persen menjadi 29,66 persen, serta peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan (inklusi keuangan) dari 59,74 persen menjadi 67,82 persen.