Demi Keselamatan, Budi Karya Minta Masyarakat Beli Tiket Secara 'Online'

Annis - Transportasi

Minggu, 18 Juni 2017 00:10 WIB

demi keselamatan, budi karya minta masyarakat beli tiket secara 'online'

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mendorong sistem pembelian tiket kapal secara daring atau 'online' agar seluruh prosesnya lebih efisien.

Budi saat meninjau KMP Dewana Dharma di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Sabtu, meyakini apabila seluruh proaes dilakukan secara daring, maka tercipta sistem penjadwalan yang tepat waktu, sehingga alokasi waktu yang seharusnya untuk proses transaksi, bisa dialihkan untuk proses pengikatan kendaraan atau "lashing".

"Jadi orang enggak menunggu lama, kita bia mengatur juga untuk membuat jam keberangkatan dan waktu bongkat muat, 'lashing' jadi lebih pendek," katanya.

Selama ini, lanjut dia, keterbatasan waktu seringkali menjadi alasan kendaraan-kendaraan tersebut tidak diikat, akibatnya apabila terjadi gelombang, maka bisa berakibat fatal seperti kejadian beberapa waktu lalu dari Ketapang ke Gilimanuk, yaitu truk dan mobil pribadi terguling.

Selain itu, lanjut dia, pembelian secara daring juga membuat penumpang percaya diri karena tidak pelru khawatir akan keterlambatan karena waktunya sudah ditetapkan.

"Jadi orang itu lebih 'confident', ini juga yang mau kita kejar di bus," katanya.

Selain itu, Budi mengatakan opsi lain yang ditawarkan, yaitu moratorium atau pembatasan kendaraan yang naik ke kapal.

"Kami tengah mengkaji bentuk tertentu agar terjadi kestabilan di atas kapal," katanya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Jenderal Perhubungan Laut A Tonny Budiono menuturkan temuan-temuan berdasarkan hasil peninjauan di Pelabuhan Ketapang, di antaranya masih ada pengikatan yang kurang kencang.

"Mestinya tidak boleh ada ruang, harus kencang karena kalau ada gelombang, dia akan goyang," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Faik Fahmi mengatakan pihaknya sudah mulai menjual tiket secara daring per 1 Juni 2017.

"Sudah sekitar 5.000 tiket terjual secara 'online', belum semua tentunya karena masyarakat pun menunggu THR," katanya.

Faik mengaku pihaknya tengah gencar menyosialisasikan pembelian tiket secara daring kepada masyarakat dan hal itu menjadi program "quick win"-nya.

Menurut dia, dibutuhkan waktu yang tidk sebentar untuk mengubah pola pembelian dari secara konvensional menjadi elektronik, khususnya bagi kalangan masyarakat menengah.

"Memang butuh waktu, KAI pun sampai empat tahun, saya pikir butuh edukasi lagi, kami juga sudah sosialisasi ke pabrik-pabrik," katanya.

Untuk memperlancar arus penumpang, Faik menuturkan pihaknya telah memisahkan jalur penumpang dengan mobil dan dengan motor.

"Kita siapkan jalur sendiri-sendiri, kalau evaluasi tahun kemarin itu arus penumpang terhambat karena mobil sama sepeda motor digabung," katanya.

Waktu yang paling padat menurut Faik, yaitu pada malam hari setelah pukul 21.00 dan pada waktu tersebut ASDP harus bisa menampung 3.000- 4.000 kendaraan per jam agar tidak ada penumpukan.

Untuk Lebaran tahun ini, ASDP menyediakan 58 kapal dengan total kapasitas penumpang sampai 2,4 juta orang dari H-10 sampai H+12 Lebaran 2017.

Terkait pengikatan kendaraan, Ia mengatakan hal itu wajib dilakukan karena sudah diatur undang-undang.

"Itu 'mandatory', wajib kita lakukan semua 'dilashing'," katanya. (Ant)